Widget

Widget

Monday, March 14, 2016

Short Story (Coldest Night) Part I

“........ selamat ya, sukses selalu, tetap semangat ya”. Jariku menyentuh sudut kanan bawah ponsel yg sedang ku genggam, "send". Seperti kejutan listrik yang menyengat, ujung jari sampai siku ini tidak bisa bergerak, air ludah yg tak bisa ku telan, mata yang tidak tahu harus melihat atau terpejam. Semuanya terjadi bersamaan. Ya, pesan pun terkirim. Itu mungkin pesan yg menjadi awal cerita ku selanjutnya.


...................................................................................................................................................................

Aku Jaka. Mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas di kota pekanbaru. Tepatnya jurusan teknik elektro. Ya, teknik. Tempat yg pas untuk menghabiskan masa mudamu. Begitulah tepatnya. Disini kalian akan melihat bahkan merasakan bagaimana seseorang yg ingin menjadi orang tapi tidak terlihat seperti orang. Tapi tidak semuanya seperti itu. Mungkin cuma aku, Jaka Pranama.

14/03/2018,
10.30 WIB

Sudah satu hari setelah aku mengirim pesan kepada seorang cewek, cewek ini sih dulunya pacarku. Tapi skrg bukan lagi, atau bisa dibilang sudah lama kami tidak berpacaran. Akupun tidak ingat kapan terakhir kami pacaran. Ya dia satusatunya mantan  yang masih berhubungan baik denganku. Bukan berarti dengan yg lain tidak baik, tapi  dalam hal ini, kami masih komunikasi seperti biasa. Layaknya berpacaran, tapi tidak.

Pagi ini aku harus bergegas menuju kampus. Seperti mahasiswa akhir kebanyakan, hari-hariku di habiskan dengan menemui dosen untuk bimbingan skripshi*. Sebatang rokok pagi pengganti sarapan, segelas kopi, dan pelukan hangat dari orang tua ketika anaknya hendak menghidupkan motor. Itulah pagi.

“Gimana judulnya? Jadi juga yg kemaren? Nanti jadi berobat?” boss-2 a.k.a Mama berteriak ketika aku hendak menjalankan motor. “jadi ma, cobaa aja deh, nanti kalo sempat langsung check up sendiri aja. aku berangkat ya, assalamualaikum” aku lgsg meng”gas” motor sambil melihat senyum manis si boss-2 dari jauh.

11.02 WIB

“Haa, kamu dari mana aja jakaa!!! Jam segini baru datang, mau nanya apa sekarang?! Tanya aja ama temen kamu ini, mereka udah saya jelasin semuanya!” begitulah kata-kata yang aku dengar ketika memasuki ruangan yang biasanya menjadi tempat kami bimbingan dengan dosen. “heheh maaf buk, kan telat dikit buk. Tp gak banyak kok buk yg mau saya tanyain, bisa buk ya?” jawabku dengan senyuman lebar karna melihat ekspresi dosen yg satu ini. “yaa yaa, kamu mau nanya apa? Jangan kelamaan, saya mau pulang nih, males lama lama di kampus”. Beliau ini menurut saya satu-satu nya dosen yang bisa mendengarkan keluh kesah mahasiswa nya. Ya walaupun beliau gak akan dengerin semuanya, tp segala macam urusan akan lancar selagi gak ada yang kita tutup-tutupin.

13.40 WIB

“Hahh...” engahan yg selalu aku ucapkan akhir-akhir ini. Mungkin lama-lama akan menjadi kebiasaan. Setiap 1-2jam sekali aku masih membuka ponselku. Berharap ada sapaan, ataupun harapan. Tapi nihil.

*Bersambung